Cerpen

Matahari Di Atas Rumah Rayya

Siang yang indah, seperti biasa dan mungkin sudah menjadi kebiasaanku sekitar jam 15.30 tepat, aku berjalan diantara barisan pepohonan cemara yang sesekali daunnya meliuk ditiup semilir angin. Kurasa suasana itu sudah menjadi teman dukaku seolah-olah langkahku menjadi berat bila melintasi jalan pulang, serasa rumahku bukanlah tujuan pulangku. Sesaat aku tiba di depan rumah kurasakan aura rumah terasa seperti neraka dunia yang terpajang di depan mata.

Bosan…. Aku dengan kehidupan rumah ini. Kehidupan yang mana selalu terjadi percekcokan. Seorang ayah yang tidak berguna dan hanya memikirkan karirnya sendiri. Seorang ayah yang selalu menyalahkan sang istri jika terjadi sesuatu di rumah tangganya. Seorang ayah yang lupa akan tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga.

Dan juga seorang kakak yang tidak pernah mendengarkan orang tuanya dan hanya bisa membuat keonaran serta memporak-porandakan seisi rumah. Bukan hanya di rumah ini saja keonaran yang dibuatnya, sampai-sampai masyarakat yang tidak berdosapun menjadi korban atas keonaran itu.

Aku masih ingat jelas tentang kejadian memilukan itu. Sebuah memori yang tidak biasa begitu saja kulupakan. Nenek ku yang terbaring baru saja terambil nyawanya dan tergeletak di atas kasur kesayangannya dengan wajah pucat putih.

“Ibu” Teringat jelas teriakan ibuku seraya mengguncang tubuh nenek yang sudah tidak bernyawa itu.

“Tuhan, mengapa begitu cepat Kau merenggut nyawa Ibu, di saat hamba masih membutuhkannya. Belum siap hambamu menerima kenyataan ini”.

Tangis ibu memecah kesunyian malam itu, disaat yang sama ku lihat kak Anwar duduk disamping kasur dimana nenek berbaring. Wajahnya menunjukkan kesedihan tapi aku merasa muak melihat tampangnya meskipun aku tak tahu apakah dia benar-benar merasa kesedihan.

* * * * *

Dua hari setelah malam memilukan itu Ayah pulang kerumah. “Mengapa baru sekarang?” ujarku dalam hati dengan penuh rasa benci campur kecewa. Padahal sesaat setelah nenek meninggal aku langsung menelepon Ayah agar segera pulang. Tapi apa daya “Nasi sudah menjadi bubur” mungkin dalam hatinya telah terucap seperti itu. Ayah datang dengan muka yang nampak lesu tetapi tidak sedikitpun menampakkan wajah kesedihan.

Tiba-tiba sepontan ibu menampar Ayah “pyar…..”, “Dari mana saja kau?, Mengapa baru pulang sekarang?” Ibu sangat marah pada ayah akan tetapi kemarahan ibu tidak dapat menandingi kemarahan ayah yang sudah menjadi kebiasaan saat pulang kerja langsung memarahi ibu tanpa ada rasa kemanusiaan. Suasana rumahpun serasa neraka yang tidak tertandingi panasnya.

* * * * *

Terik matahari siang itu begitu membakar tubuh ku. Aku berjalan selangkah demi selangkah menelusuri jalan menuju halte bus. Aku menutupi wajahku dengan ujung jilbabku untuk menghindari polusi yang ada di sekitarku. Setelah lelah berjalan aku duduk di bangku panjang seraya meminum teh botol yang ku beli di warung sebelah halte.

Ufh…. Segar rasanya. Andai saja pikiranku sesegar ini setiap hari. Ah…. Tidak mungkin, batinku, pikiranku kembali teringat kejadian malam itu. Kejadian itu membuat konsentrasiku buyar saat pelajaran tadi. Ditambah lagi tugas sekolah yang….. “Astaghfirullah” mata dan hatiku tercengang sekaligus, seperti orang yang terkena struk mendadak, mataku tersorot kesebrang jalan melihat kejadian yang tidak berprikemanusiaan. Kakak ku dan Csnya mengambil uang seorang nenek dengan paksa dan langsung meninggalkan nenek begitusaja.

Sepontan saja aku mengambil langkah seribu menghampiri nenek itu untuk membantunya. “Nenek tidak apakan?” tanya ku seraya menyodorkan the botol yang aku genggam. “Nenek tidak apa-apa nak, orang itu hanya mengambil uang nenek” nenek berusaha menceritakan kejadain yang menimpanya. “Sungguh kau baik sekali nak, tidak seperti orang yang jahat tadi, tidaklah mungkin orang itu mempunyai saudara seperti mereka” saat kalimat-kalimat itu terucap dari lisan nenek hatiku terasa diiris-iris menggunakan pisau tertajam yang pernah ada. “Nek, dia Anwar kakaku” ujarku dalam hati sambil air mata yang menetes sedikit demi sedikit tidak mau menerima kenyataan.

* * * * *

Malam harinya aku terbangun dari tidurku dan kulihat jam beker mike mouse yang terpajang di atas meja belajarku, pukul 03.00 pagi. Kutapakkan kakiku setapak demi setapak kekamar mandi untuk berwudhu’ meski mataku masih setengah buta. Air wudhu’ yang membasahi wajahku membuat binar mataku. Lalu kunaikan sholat tahajjud dengan khusuk, tak jarang air mataku menetes dalam do’aku.

“ Ya Allah….. inilah hambamu.

Yang bangun hanya untuk menengadahkan tangan

padaMu

Ya Allah…..

Kemana aku harus berpijak…?

Sedangkan tidak ada pijakan

Untuk ku, keluarga ku

Aku coba merentangkan tangan

Untuk ribuan derita yang engkau turunkan dari langit

Berharap hilangnya lara karena Aku tau bahwa hanya padamulah hamba berserah.

Tiba-tiba suara keras terdengar keras di akhir do’aku, suara itu berasal dari depan rumah. “Ibu….. ibu., buka pintunya!” dengan nada perintah plus marah. Kakak ku yang biasa pulang pagi dengan pakaian ala metal dengan mulut yang berbau rokok dan alkohol. Kakak ku baru saja pulang dari Dugem yang merupakan budaya kafir dari barat yang dianutnya.

Segera saja aku membuka pintu rumah agar ibuku tidak terbangun dari tidurnya hanya untuk masalah gila seperti ini. Akupun langsung membaringkan Anwar ditempat tidurnya dan kutinggalkan saja. Aku tidak rela untuk mengurusnya lagi.

* * * * *

Hari-hari ku lalui di rumah neraka ini, rasanya aku tidak sanggup lagi. Sampai suatu ketika saat aku pulang sekolah dan melintasi barisan pohon cemara seperti biasanya. Aku melihat daun cemara yang berguguran jatuh dari pohonnya dikarenakan hembusan angin yang bertiup cukup kencang. Terlintas dibenakku yang kurasa ide buruk akan tetapi dapat menghilangkan stresku. Aku berfikir untuk bersekolah jauh keluarkota bahkan ke desa terpencil dan akan menetap disana untuk jangka waktu yang panjang.

Hingga sauatu malam yang tenang saat seluruh keluargaku berada dirumah. Aku meminta mereka berkumpul agar semua keluargaku dapat mendengar yang akan aku katakan.

Memang Ayah dan Kakak ku juga ikut berkumpul akan tetapi mereka sibuk sendiri. Ayah sibuk membaca koran dan kakak yang sibuk merapikan aksesoris ala metal yang dikenakannya. “Adaapa Rayya?….. apa yang ingin kamu katakan…? “tanya dari ibuku. Kutarik nafas dalam-dalam untuk permulaan ” Ayah, Ibu dan Kakak yang aku cintai, Sebenarnya ini adalah ide buruk akan tetapi baik bagi kelangsungan hidupku, Aku berencana untuk pindah sekolah keluar kota ke sebuah desa terpencil didaerah Jombang” kata itupun akhirnya terucap juga dari mulutku. “Apa yang kamu cari disana Rayya…? Apa tidak cukup semua yang Ayah berikan?” dengan nada marah dan sok angkuh dari ayah, Ibuku hanya menangis tersedu-sedu mendengarkan berita dariku. Dengan setegas yang aku bisa aku menjawab, melawan ayah. “Semua yang ayah berikan tidak berarti apa-apa, hanya menambah sedih batinku dan apakah ayah sadar dengan semua itu?”. Semua mata tertuju padaku dengan pandangan penuh keheranan mungkin karena aku yang seperti bom menit yang suatu saat bisa meledak dan ternyata meledak malam itu. Langsung saja bahu ayah yang awalnya terangkat turun seketika dengan diikuti alis yang mulai turun, kakakupu demikian, ia berhenti dengan kesibukannya dan ikut larut dalam malam sarabut itu.

Satu setengah jam rasanya kami berdiam diri tanpa sepatah katapun terucap, hingga saat itu tak terucap kata “Maaf… maafkan ayah” Entah pikiran jernih apa yang terlintas dipikiran ayahku, hingga terucap kata yang kurasa itu sulit untuk diucapkan oleh seorang yang angkuh seperti ayahku.

Ayahkupun menghampiriku langsungmemelukku dan diikuti Ibu serta kakak ku. Entah apa yang terjadi tapi hanya kata syukur yang ku ucapkan.

“Terimakasih ya Allah

Sungguh Elegiku meredup

Terganti oleh cinta

Mungkinkah tinta deritaku sudah kering

Untuk melanjutkan episode-episode yang kelam ini

Kuharap “ya”

Suatu kata yang memastikan pada hidupku ini”

“Ayah rasa cukup kehilangan nenekmu dan jangan terulang lagi dengan kepergian Rayya” ucap ayah membuat batinku tersentuh dan menghapus keinginan itu.

“Betul nak siapa lagi yang akan menyejukkan rumah ini bila tanpa kamu anakku” ujar ibu tercinta.

Yang lalu biarlah berlalu aku akan berubah dan akan menjadi kakak bagi Rayya bukan baday”. Ucapan terakhir dari kakak ku itulah yang mencairkan hatiku dan memperkuat diriku agar aku mengurungkan niat. Ternyata baru aku sadari sebuah neraka bisa diubah menjadi surga.

Langsung saja aku raih tangan ibuku kemudian aku cium tangannya dan aku gilir pada ayah. Tindakanku pun sungguh di ikuti oleh Anwar kakak ku.

Sungguh aku yakin Matahari telah bersinar kembali, menerangi rumah keluarga kami. Ucapan syukur yang tiada henti terucap dari lisanku dan senyum manis yang terpancar dari bibirku.

Pamekasan,05-09-2010

Bahron firmansyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s